Viral! 'Kinda Chic' Adalah Tren Gaya Hidup Baru yang Mengubah Hal Biasa Jadi Keren

Viral! ‘Kinda Chic’ Adalah Tren Gaya Hidup Baru yang Mengubah Hal Biasa Jadi Keren

Pernah nggak sih lo liat konten tentang ngeteh di teras rumah pake piyama terus dianggep aesthetic?

Atau video orang lagi nyapu halaman tapi di-edit kayak film bioskop?

Itu dia. Kinda Chic.

Tren ini lagi booming banget di TikTok dan Instagram. Semua orang tiba-tiba jadi kreatif ngubah aktivitas paling biasa jadi sesuatu yang… kerennn. Tapi tunggu dulu. Gue mau ajak lo ngobrol tentang sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tren.

Sebenernya Apa Sih Kinda Chic Itu?

Kinda Chic itu singkatan dari “kind of chic”. Artinya sesuatu yang agak kece. Nggak harus mewah. Nggak harus mahal. Justru sebaliknya.

Yang bikin tren ini unik adalah fokusnya pada keseharian. Kegiatan kayak:

  • Sarapan roti bakar di dapur rumah
  • Baca komik di taman belakang
  • Naik angkot sambil dengerin musik
  • Masak mie instan tapi porsi piringnya aesthetic

Semua hal itu tiba-tiba jadi konten yang viral. Kenapa? Karena Kinda Chic mengajarkan kita buat menemukan keindahan di hal-hal yang selama ini kita anggap biasa aja.

Tapi di sinilah letak ironinya.

3 Contoh Kinda Chic yang Lagi Viral

1. #KindaChicMorning

Coba buka TikTok. Lo bakal nemuin ribuan video dengan tagar ini. Isinya? Orang bangun tidur, buat kopi, terus minum di teras rumah.

Tapi videonya diedit dengan filter warm, musik lo-fi, dan gerakan slow motion.

Salah satu kreator, @ryandaily (1.2 juta followers) bahkan bikin video dirinya lagi nyuci piring. Nyuci piring! Tapi videonya dapat 2.3 juta views. Kenapa? Karena dia bikin aktivitas nyuci piring terlihat kayak scene di film Woody Allen.

2. Konten “Ngemis di Angkot” Jadi Aesthetic?

Pernah liat video orang naik angkot sambil ngeliatin pemandangan di luar jendela? Terus dikasih caption kayak “finding peace in chaos” atau “the beauty of ordinary things”?

Itu Kinda Chic banget.

Aktivitas naik angkot yang dulu dianggap nggak keren, sekarang jadi konten filosofis. Ada yang bilang ini bentuk apresiasi. Tapi ada juga yang bilang ini cuma cara orang biar dibilang deep dan berkelas.

3. Makan di Warung Tepi Jalan

Gue yakin lo udah sering lihat konten review makanan di warung. Tapi Kinda Chic versi terbaru beda. Mereka nggak cuma review. Mereka bikin pengalaman makan di warung jadi experience.

Mulai dari framing video, sudut pengambilan gambar, sampai caption yang puitis. Warung angkringan dengan kursi plastik tiba-tiba terlihat kayak restoran bintang Michelin. Keren sih, tapi…

Krisis Autentisitas: Kenapa Kita Perlu Ini?

Nah ini dia yang pengen gue bahas. Kinda Chic mungkin keliatan keren. Tapi sebenernya ini sinyal bahwa media sosial kita lagi mengalami krisis autentisitas.

Coba pikir. Kenapa kita perlu mengedit video nyapu halaman biar keliatan aesthetic? Kenapa aktivitas paling normal harus dibungkus dengan filter dan musik dramatis?

Data dari Digital Wellbeing Report 2025 menunjukkan bahwa 67% pengguna media sosial usia 18-25 tahun merasa tekanan untuk menampilkan versi “sempurna” dari kehidupan mereka. Sementara 54% lainnya mengaku lelah dengan konten yang terlalu dipoles.

Kinda Chic ini sebenernya reaksi atas kelelahan itu. Kita pengen sesuatu yang real. Tapi di saat yang sama, kita masih nggak bisa lepas dari ekspektasi media sosial yang pengen semuanya aesthetic.

Jadi kita kompromi: bikin yang biasa jadi keren, tapi dengan cara yang tetap “terlihat autentik”.

Ironic, kan?

Data yang Bikin Mikir

Hasil survei dari Youth Culture Lab 2025 (lembaga riset tren anak muda) nemuin fakta menarik:

IndikatorPersentase
Gen Z yang merasa konten media sosial “terlalu dibuat-buat”72%
Milenial yang lebih percaya konten “nggak diedit” dibanding yang diedit68%
Pengguna yang tetap mengedit konten meskipun mengaku ingin autentik81%

Nah lho. Makin kacau kan?

Kita bilang pengen autentik, tapi tetep aja ngedit. Kita bilang capek sama konten yang dipoles, tapi tetep aja nge-filter.

Kinda Chic ada di tengah-tengah itu. Dia kayak “oke deh, kita tetep bakal aesthetic-in hidup kita, tapi kita pilih hal-hal yang biasa aja biar keliatan relatable.”

Tapi Emang Kenapa Kita Nggak Bisa Berhenti?

Gue rasa ada beberapa alasan:

Pertama, karena ekspektasi sosial. Lo posting foto sarapan pake nasi goreng di piring biasa? Dibilang norak. Tapi kalo lo bikin video sarapan yang di-slow-mo dengan filter warm? Baru dibilang kece. Kita terperangkap dalam sistem yang kita sendiri ciptakan.

Kedua, karena FOMO (Fear of Missing Out). Kalo semua orang bikin konten Kinda Chic dan lo nggak ikut, lo merasa ketinggalan. Padahal sebenernya nggak ada yang salah dengan jadi diri sendiri.

Ketiga, karena algoritma. Media sosial kita didesain buat ngasih reward ke konten yang aesthetic dan engaging. Jadi kita dipaksa buat terus menghasilkan konten yang “bagus” walaupun itu cuma aktivitas biasa.

Practical Tips: Gimana Jadi Kinda Chic Tanpa Kehilangan Diri?

Daripada lo ikut-ikutan tanpa sadar, mending lakuin ini:

  1. Buat konten yang beneran lo suka – Jangan cuma karena lagi tren. Kalo lo emang suka ngeteh di pagi hari, silakan. Tapi kalo lo nggak suka kopi, ya jangan paksain.
  2. Kurangi filter berlebihan – Coba posting tanpa filter sekali-sekali. Rasain bedanya. Lo bakal dapet interaksi yang lebih real dari temen-temen lo.
  3. Inget tujuan lo – Apa lo bikin konten buat dokumentasi pribadi atau buat ekspektasi orang lain? Kalo buat pribadi, nggak usah terlalu mikirin aesthetic.
  4. Nikmati momennya dulu, baru record – Jangan terlalu fokus ngambil video sampe lo lupa menikmati momennya. Itu namanya bukan gaya hidup, itu namanya jadi konten kreator.

Kesalahan yang Sering Dilakukan

Banyak dari kita yang fallen into the trap. Ini beberapa kesalahan umum:

  • Mengorbankan pengalaman demi konten – Pernah nggak lo ke tempat wisata, tapi sibuk foto mulu sampe lupa nikmatin pemandangan? Itu salah satu efek Kinda Chic yang berlebihan.
  • Membandingkan hidup lo sama orang lain – Ingat, yang lo lihat di media sosial adalah highlight reel, bukan behind the scenes. Semua orang punya momen biasa. Nggak ada yang hidupnya aesthetic 24/7.
  • Lupa bahwa “biasa” itu juga berharga – Kita jadi terlalu fokus bikin yang biasa jadi luar biasa, sampe lupa bahwa ada keindahan dalam kesederhanaan.

Jadi Sebenernya Kinda Chic Itu Baik atau Buruk?

Gue nggak mau bilang tren ini jelek. Justru ada sisi positifnya: Kinda Chic mengajarkan kita buat menghargai hal-hal kecil. Itu bagus banget di tengah dunia yang serba cepat dan materialistis.

Tapi yang jadi masalah adalah ketika kita terlalu overdosis. Ketika Kinda Chic berubah dari apresiasi menjadi paksaan. Ketika kita nggak lagi melakukannya karena suka, tapi karena takut dianggap kuno.

Kinda Chic sebenernya cerminan dari kegalauan generasi kita. Kita pengen autentik, tapi kita juga pengen diakui. Kita pengen jadi diri sendiri, tapi kita juga pengen sesuai standar.

Dan nggak ada yang salah dengan itu. Selama kita sadar.

Penutup: Balikin Makna Sebenarnya

Jadi, gimana? Masih mau ikut tren Kinda Chic? Boleh-boleh aja. Tapi inget satu hal: jangan sampe lo kehilangan diri lo sendiri di tengah-tengah filter dan slow motion.

Nikmati hal-hal biasa. Tapi nikmatin beneran. Bukan cuma buat konten.

Karena pada akhirnya, hal yang paling chic adalah ketika lo bisa jadi diri lo sendiri—tanpa perlu diedit, tanpa perlu filter, tanpa perlu pembuktian ke siapapun.

Gimana menurut lo? Apakah Kinda Chic itu tren yang asik atau justru tanda krisis autentisitas? Atau mungkin kombinasi dari keduanya? Cerita di kolom komentar ya!

Tetap keren, tapi tetep jadi diri lo.